Bengkulu — Ketika kemarau membuat tanah dan udara terasa lebih kering, ada satu hal yang tak pernah kering: harapan. Di tengah kondisi cuaca yang masih didominasi musim kemarau, keluarga besar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu memilih menengadahkan tangan, memanjatkan doa, dan memohon pertolongan Allah SWT melalui Salat Istisqa, Jumat (18/09/2026).
Salat Istisqa dan doa bersama tersebut digelar di Lapangan Utama Lapas Bengkulu dan diikuti oleh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN), Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), serta peserta magang dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).
Di bawah langit Bengkulu, seluruh peserta berdiri dalam satu barisan. Tidak ada sekat antara petugas, warga binaan maupun peserta magang. Semuanya larut dalam satu ikhtiar yang sama—memohon agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat, kesejukan, dan keberkahan bagi kehidupan.
Momentum tersebut menjadi semakin bermakna karena kondisi kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dari pola normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan di Provinsi Bengkulu baru mulai memasuki fase awal sekitar dasarian III Oktober 2026, mundur dibandingkan pola normal yang umumnya mulai terjadi pada akhir September. Kondisi tersebut dikaitkan dengan pengaruh fenomena El Niño yang masih kuat.
Bahkan, prediksi BMKG untuk September menunjukkan sebagian besar wilayah Provinsi Bengkulu, termasuk Kota Bengkulu, berada dalam kategori curah hujan rendah, yakni sekitar 0–100 milimeter dalam sebulan. Sifat hujan juga diprediksi berada di bawah normal di sejumlah wilayah Bengkulu.
Secara nasional, BMKG juga menyebut fenomena El Niño kategori sangat kuat masih memberikan pengaruh terhadap kondisi atmosfer Indonesia. Sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam musim kemarau, dengan kondisi atmosfer yang cenderung kering dan pasokan uap air yang relatif terbatas.
Namun, langit tidak selalu sepenuhnya tertutup dari kemungkinan hujan. BMKG tetap memprakirakan adanya potensi hujan dengan intensitas sedang di Bengkulu pada periode 18–20 September 2026. Dinamika atmosfer seperti gelombang Rossby, gelombang Kelvin, serta pola pertemuan dan belokan angin turut memengaruhi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.
Di tengah ketidakpastian itulah Salat Istisqa menjadi sebuah bentuk ikhtiar. Bukan sekadar menunggu langit berubah, tetapi juga mengingatkan manusia bahwa di balik segala upaya dan perhitungan, terdapat kekuasaan Allah SWT yang menjadi tempat manusia memohon pertolongan.
Dengan khusyuk, para peserta mengikuti rangkaian ibadah hingga doa bersama. Permohonan dipanjatkan agar hujan segera diturunkan, bukan sekadar untuk membasahi tanah, tetapi membawa kehidupan bagi tanaman, menjaga ketersediaan air, memberikan kesejukan, serta menjadi rahmat bagi masyarakat luas.
Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono, menyampaikan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar bersama sekaligus momentum untuk meningkatkan keimanan dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan.
“Salat Istisqa ini merupakan ikhtiar dan doa kita bersama. Kita memohon kepada Allah SWT agar diturunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi seluruh masyarakat. Semoga doa yang kita panjatkan menjadi jalan turunnya rahmat Allah SWT,” ujarnya.
Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, Salat Istisqa tersebut mempertemukan seluruh elemen Lapas Bengkulu dalam suasana yang penuh kebersamaan. ASN, warga binaan, dan peserta magang bersama-sama menundukkan kepala, menyadari bahwa kebutuhan akan air dan keberkahan hujan merupakan harapan yang melampaui batas status dan peran.
Bagi warga binaan, momentum ini juga menjadi bagian dari pembinaan kepribadian yang menanamkan nilai-nilai spiritual, introspeksi, kepedulian, serta kesadaran untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sebab pada akhirnya, hujan bukan hanya tentang air yang jatuh dari langit. Ia adalah tentang kehidupan yang tumbuh, tanah yang kembali basah, udara yang menjadi sejuk, dan harapan yang kembali menyala.
Dari Lapangan Utama Lapas Bengkulu, doa itu pun dipanjatkan bersama.
Semoga langit segera menurunkan hujan. Semoga setiap tetesnya menjadi rahmat. Dan semoga setiap doa yang terucap menjadi jalan datangnya keberkahan bagi Bengkulu dan seluruh masyarakat.