Bengkulu – Suasana religius dan penuh khidmat menyelimuti Masjid An Nur Lapas Kelas IIA Bengkulu pada Senin (02/03). Dalam rangkaian kegiatan Pesantren Kilat Ramadan, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkulu menggelar lomba khotbah yang diikuti oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sebagai bagian dari pembinaan kepribadian dan peningkatan kualitas spiritual.
Kegiatan ini menjadi salah satu agenda unggulan Pesantren Kilat Ramadan yang bertujuan menumbuhkan kemampuan dakwah, memperdalam pemahaman keagamaan, serta melatih kepercayaan diri WBP untuk tampil di hadapan publik. Sejak pagi, para peserta bergiliran menyampaikan khotbah dengan tema-tema keislaman, akhlak, dan refleksi makna Ramadan.
Setiap peserta menampilkan karakter dan gaya penyampaian yang berbeda, namun sarat pesan moral dan nilai-nilai kebaikan. Antusiasme tampak jelas, baik dari peserta maupun jamaah yang menyimak khotbah dengan penuh perhatian di Masjid An Nur.
Bertindak sebagai juri dalam lomba ini, Ustadz Faruq dari Yayasan Hidayatullah Kota Bengkulu memberikan penilaian berdasarkan substansi materi, teknik penyampaian, penguasaan mimbar, serta ketepatan waktu. Ia mengapresiasi keberanian dan kesungguhan para peserta yang dinilai mampu menyampaikan pesan dakwah dengan baik.
Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono, mengatakan bahwa lomba khotbah ini merupakan bagian dari pembinaan mental dan spiritual yang berkelanjutan bagi warga binaan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kepercayaan diri warga binaan sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat. Harapannya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal positif ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Pesantren Kilat Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, serta menumbuhkan semangat perubahan ke arah yang lebih baik di lingkungan pemasyarakatan.
Lomba khotbah pun berlangsung dengan tertib dan lancar hingga akhir kegiatan. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana refleksi diri dan pembuktian bahwa proses pembinaan di dalam lapas mampu melahirkan pribadi-pribadi yang berkarakter, religius, dan siap berkontribusi positif di tengah masyarakat.