Skip ke Konten

40 Warga Binaan Lapas Bengkulu Jalani Skrining HIV dan Sifilis, Seluruh Hasil Negatif

18 September 2026 oleh
Lapas Bengkulu

Bengkulu – Upaya menjaga kesehatan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tidak berhenti pada penanganan ketika penyakit muncul. Di balik tembok Pemasyarakatan, deteksi dini menjadi bagian penting untuk memastikan proses pembinaan berjalan dalam lingkungan yang sehat.

 

Semangat tersebut diwujudkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu melalui kerja sama dengan UPTD Puskesmas Bentiring dengan melaksanakan skrining Infeksi Menular Seksual (IMS) terhadap 40 Warga Binaan, Sabtu (19/09/2026).

 

Bertempat di Klinik Pratama Lapas Bengkulu, kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan sifilis. Pemeriksaan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan UPTD Puskesmas Bentiring yang dipimpin Dokter Lisda Naomi Siregar, dengan dukungan tenaga kesehatan Klinik Pratama Lapas Bengkulu.

 

Hasil pemeriksaan memberikan kabar positif. Seluruh 40 Warga Binaan yang mengikuti skrining mendapatkan hasil negatif pada pemeriksaan HIV dan sifilis.

 

Hasil tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa langkah deteksi dini memiliki arti penting dalam menjaga kesehatan komunitas di lingkungan Pemasyarakatan. Pemeriksaan dilakukan bukan semata untuk mencari ada atau tidaknya penyakit, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran Warga Binaan terhadap pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara berkala.

 

Pelayanan kesehatan memiliki posisi penting dalam proses Pemasyarakatan. Pembinaan tidak hanya berbicara mengenai perubahan perilaku, keterampilan, maupun kesiapan kembali ke tengah masyarakat, tetapi juga menyangkut kondisi kesehatan Warga Binaan selama menjalani masa pidana.

 

Karena itu, keberadaan Klinik Pratama di Lapas menjadi bagian penting dalam mendukung layanan kesehatan WBP. Kolaborasi dengan fasilitas kesehatan pemerintah seperti Puskesmas kemudian memperluas dukungan tersebut melalui pemeriksaan dan deteksi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sesuai kompetensinya.

 

Dalam pedoman Kementerian Kesehatan, skrining dan deteksi IMS merupakan bagian dari upaya pengendalian penyakit menular. HIV dan sifilis termasuk penyakit yang menjadi perhatian dalam kegiatan skrining IMS.

 

Pendekatan deteksi dini juga sejalan dengan praktik yang dilakukan di sejumlah satuan kerja Pemasyarakatan lainnya. Sehari sebelum kegiatan di Lapas Bengkulu, Lapas Kelas I Surabaya bekerja sama dengan Puskesmas Kedungsolo melaksanakan skrining HIV dan IMS terhadap 100 WBP. Kegiatan tersebut juga disertai konseling dan edukasi kesehatan.

 

Sementara itu, Lapas Terbuka Kendal pada Agustus 2026 melaksanakan skrining TBC serta HIV, sifilis, dan Hepatitis C terhadap 81 WBP bersama Dinas Kesehatan dan Puskesmas. Kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari deteksi dini sekaligus dukungan terhadap kesehatan Warga Binaan selama menjalani pembinaan.

 

Pelaksanaan skrining di Lapas Bengkulu menunjukkan bahwa pemenuhan kesehatan Warga Binaan membutuhkan kerja bersama. Lapas memiliki peran dalam memastikan akses pelayanan kesehatan bagi WBP, sementara fasilitas kesehatan pemerintah memberikan dukungan melalui tenaga dan kapasitas medis yang dimiliki.

 

Dalam kegiatan kali ini, sinergi tersebut terlihat dari keterlibatan langsung tenaga kesehatan UPTD Puskesmas Bentiring yang dipimpin Dokter Lisda Naomi Siregar bersama tenaga kesehatan Klinik Pratama Lapas Bengkulu.

 

Kolaborasi semacam ini juga penting untuk membangun kesinambungan pelayanan. Ketika pemeriksaan kesehatan dilakukan secara berkala, potensi gangguan kesehatan dapat diketahui lebih awal sehingga langkah penanganan maupun tindak lanjut dapat dilakukan sesuai kebutuhan medis.

 

Bagi 40 WBP yang mengikuti skrining, hasil negatif HIV dan sifilis menjadi kabar baik dalam pemantauan kesehatan saat ini. Namun, nilai penting kegiatan tersebut tidak hanya terletak pada hasil pemeriksaan.

 

Lebih jauh, skrining menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Edukasi mengenai penyakit menular, pencegahan, perilaku hidup sehat, serta keberanian melakukan pemeriksaan menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kesehatan.

 

Hal ini juga memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan di Lapas tidak semestinya dipandang sebagai layanan tambahan, melainkan sebagai bagian integral dari pembinaan manusia.

 

Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono, melalui jajaran terkait terus mendorong penguatan pelayanan kepada Warga Binaan, termasuk dalam aspek kesehatan.

 

Lingkungan Pemasyarakatan yang sehat menjadi salah satu fondasi agar berbagai program pembinaan dapat berjalan secara optimal. WBP yang mendapatkan akses pemeriksaan dan pelayanan kesehatan diharapkan dapat mengikuti pembinaan kepribadian maupun kemandirian dengan lebih baik.

 

Bagi Lapas Bengkulu, skrining HIV dan sifilis ini menjadi bagian dari langkah yang lebih besar: membangun Pemasyarakatan yang tidak hanya aman dan tertib, tetapi juga peduli terhadap kesehatan manusia yang berada di dalamnya.

 

Dengan seluruh 40 peserta memperoleh hasil negatif pada skrining HIV dan sifilis, sinergi Lapas Bengkulu bersama UPTD Puskesmas Bentiring kembali menegaskan bahwa deteksi dini, pencegahan, edukasi, dan kolaborasi kesehatan merupakan bagian penting dalam mewujudkan pembinaan yang semakin komprehensif dan bermartabat.

Share post ini